Environesia Global Saraya
07 September 2026
Sejak awal September 2026, perhatian publik tertuju pada Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, yang mengalami rangkaian erupsi dengan intensitas tertinggi sepanjang tahun ini. Sebagai lembaga yang bergerak di bidang lingkungan hidup, kami turut mencermati peristiwa ini bukan dari sisi komersial, melainkan sebagai bagian dari kepedulian terhadap masyarakat yang terdampak dan pentingnya pemahaman publik atas fenomena geologi yang memiliki implikasi lingkungan luas.
Tulisan ini disusun sebagai rekap informasi dan edukasi, dengan harapan dapat membantu masyarakat memahami apa yang sesungguhnya terjadi, dampak lingkungan yang menyertainya, dan langkah kewaspadaan yang relevan bukan sebagai ajang promosi apa pun.
Gunung Anak Krakatau, gunung api aktif yang tumbuh di kompleks kaldera Krakatau, Selat Sunda, telah berstatus Level III (Siaga) sejak 2 Juli 2026 setelah aktivitas vulkaniknya meningkat. Sejak saat itu, gunung ini mengalami rangkaian erupsi tipe Strombolian secara berkala erupsi yang menghasilkan lontaran batu pijar dan abu vulkanik.
Puncak intensitas terjadi pada 4-6 September 2026. Pada 4 September pukul 23.07 WIB, Gunung Anak Krakatau memasuki fase erupsi menerus disertai semburan lava (lava fountain) fenomena yang menurut pengamat gunung api tercatat sebagai intensitas tertinggi sejak status siaga ditetapkan. Erupsi menerus ini disertai suara gemuruh dan dentuman yang terdengar hingga wilayah pesisir Banten dan Lampung, bahkan dilaporkan terdengar di Bandung Raya akibat perambatan gelombang suara berfrekuensi rendah fenomena akustik serupa pernah tercatat pada erupsi Anak Krakatau April 2020 dan letusan Gunung Kelud 2014.
Badan Geologi mengonfirmasi episode erupsi menerus tersebut berhenti pada 6 September 2026 pukul 00.04 WIB, setelah berlangsung sekitar 25 jam. Meski demikian, erupsi-erupsi terpisah dengan tipe Strombolian masih terus terjadi setelahnya, termasuk yang tercatat pada 6 September malam dan pagi hari berikutnya, dengan status Level III (Siaga) tetap dipertahankan hingga tulisan ini disusun.
Sebaran abu vulkanik lintas provinsi. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sedikitnya empat provinsi terdampak paparan abu vulkanik: DKI Jakarta, Jawa Barat, Lampung, dan Sumatera Selatan, dengan Lampung Selatan, Tanggamus, dan Pandeglang tercatat sebagai wilayah paling terdampak. Sebaran abu vulkanik dalam skala ini berdampak pada beberapa aspek lingkungan sekaligus: penurunan kualitas udara ambien di wilayah terdampak, potensi gangguan pernapasan bagi kelompok rentan, serta gangguan terhadap aktivitas pertanian dan perairan di sekitar area yang terpapar abu.
Gangguan operasional transportasi udara. Sebaran abu vulkanik menyebabkan penutupan sementara delapan bandara di empat provinsi terdampak konsekuensi langsung dari risiko abu vulkanik terhadap keselamatan penerbangan, mengingat partikel abu dapat merusak mesin pesawat apabila terhisap dalam konsentrasi tinggi.
Operasi modifikasi cuaca sebagai respons mitigasi. BNPB melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) menggunakan metode hujan buatan dan water mist untuk meluruhkan abu vulkanik yang tersebar di atmosfer sebuah pendekatan mitigasi yang mempercepat pengendapan partikel abu ke permukaan, mengurangi durasi paparan abu di udara yang dihirup masyarakat.
Potensi risiko tsunami yang terus dipantau. Mengingat sejarah keruntuhan sebagian tubuh Anak Krakatau yang memicu tsunami Selat Sunda pada Desember 2018, otoritas terkait melakukan pemantauan intensif menggunakan 20 sensor muka laut (tsunami gauge) dan teknologi High-Frequency Radar Array. Berdasarkan evaluasi terkini, probabilitas terjadinya tsunami dinilai berada pada tingkat rendah, di bawah 40 persen namun kewaspadaan tetap dipertahankan mengingat sifat dinamis aktivitas vulkanik di kawasan ini.
Mengapa Karakteristik Anak Krakatau Berbeda dari Gunung Api Lain
Anak Krakatau memiliki karakteristik geologi yang unik dibanding kebanyakan gunung api aktif di Indonesia: ia adalah gunung api yang tumbuh di tengah laut, di dalam kaldera bekas letusan besar Krakatau 1883 salah satu letusan vulkanik paling dahsyat dalam sejarah modern yang turut menghasilkan tsunami besar. Karakteristik ini membuat Anak Krakatau memiliki risiko ganda yang jarang dimiliki gunung api daratan: risiko erupsi vulkanik konvensional (abu, lontaran material pijar, gas vulkanik) sekaligus risiko tsunami akibat longsoran tubuh gunung ke laut, sebagaimana pernah terjadi pada 2018.
Sejak peristiwa 2018 tersebut, Anak Krakatau memasuki fase konstruksi proses pembentukan kembali morfologi tubuh gunung melalui serangkaian erupsi berskala kecil yang berlangsung hingga akhir 2023. Setelah jeda beberapa waktu, aktivitas vulkanik kembali meningkat pada Juli 2026, membawa gunung ini kembali ke status siaga yang bertahan hingga rangkaian erupsi intensif awal September ini.
Sebagai praktisi yang sehari-hari bekerja di isu pemantauan lingkungan, kualitas udara, dan kajian daya dukung wilayah, kami di Environesia melihat peristiwa ini sebagai pengingat betapa lingkungan hidup dan kebencanaan geologi sesungguhnya adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Sebaran abu vulkanik yang berdampak pada kualitas udara lintas provinsi, gangguan terhadap ekosistem perairan di sekitar Selat Sunda, hingga potensi dampak jangka menengah terhadap lahan pertanian yang terpapar abu, semuanya adalah persoalan lingkungan hidup dalam pengertian yang utuh bukan sekadar persoalan kebencanaan yang berdiri sendiri. Kami turut berharap proses pemulihan pascaerupsi nantinya juga memperhatikan aspek lingkungan secara menyeluruh, tidak hanya penanganan darurat semata.
Sesuai rekomendasi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), masyarakat, pengunjung, wisatawan, maupun pendaki diimbau untuk tidak mendekati Gunung Anak Krakatau atau melakukan aktivitas apa pun dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif. Bagi masyarakat di wilayah yang terdampak sebaran abu vulkanik, penggunaan masker dan pembatasan aktivitas di luar ruangan pada periode sebaran abu tinggi adalah langkah pencegahan dasar yang relevan untuk melindungi kesehatan pernapasan.
Kementerian Kesehatan turut menyiagakan puskesmas di wilayah terdampak sebagai bagian dari kesiapsiagaan menghadapi potensi dampak kesehatan akibat paparan abu vulkanik. Masyarakat disarankan untuk terus memantau informasi resmi dari Badan Geologi, BNPB, dan BMKG melalui kanal-kanal resmi seperti aplikasi MAGMA Indonesia, alih-alih mengandalkan informasi yang belum terverifikasi yang beredar di media sosial.
Peristiwa alam seperti ini adalah pengingat akan posisi geografis Indonesia yang berada di Cincin Api Pasifik, dengan segala potensi maupun risikonya. Kami berharap masyarakat yang terdampak tetap dalam keadaan aman, dan mengikuti seluruh arahan resmi dari otoritas berwenang selama situasi ini masih berlangsung.
Environesia Global Saraya
17 May 2023
Environesia Global Saraya
12 May 2023
Dengan layanan konsultasi lingkungan dan uji laboratorium yang telah tersertifikasi KAN, Environesia siap menjadi solusi untuk kemudahan dan efisiensi waktu dengan output yang berkualitas